Badut pembawa berita


Suatu ketika di hutan pinggiran suatu dusun, sebuah rombongan sirkus menggelar tendanya dan mempersiapkan pertunjukan.

Suatu hari, tepat sebelum suatu pertunjukan dimulai, entah bagaimana terjadi kebakaran di semak2 di pinggir perkemahan sirkus tersebut. Angin bertiup dengan kencang ke arah dusun. Angin yang kencang juga membesarkan kobaran api dengan cepat.

Kata pemilik sirkus, ‘harus ada seseorang yang memperingati masyarakat dusun tersebut tentang kebakaran hutan ini. Kalau api mencapai dusun, maka akan jatuh korban harta benda yang besar.’

Seorang badut, masih lengkap dengan pakaian dan make-up badutnya (karena bersiap untuk pertunjukan) segera berlari menyambar sepeda hias yang seharusnya dipakai dalam pertunjukan. Tanpa membuang waktu, badut tersebut mengayuh sepedanya secepat mungkin menuju dusun tersebut.

Beruntung dusun tersebut terletak di dataran yang lebih rendah, sehingga si badut dapat mencapai dusun tersebut sebelum api yang berkobar mencapai dusun. Si badut berteriak2 dengan lantang sambil bersepeda berkeliling alun-alun, ‘kebakaran hutan!!! Cepat selamatkan diri dan keluarga kalian!!!’

Namun masyarakat dusun yang melihat dan mendengar teriakan si badut tersebut malah berkerumun dan menertawakan si badut yang berpakaian dan beraut wajah lucu. Mereka menonton badut tersebut sambil bertepuk tangan.

Akhirnya kobaran api pun mencapai dusun tersebut, dan menyebabkan kebakaran besar. Teriakan histeris dan panik mewarnai usaha masyarakat dusun untuk melarikan diri. Korban jiwa dan harta benda tak dapat dielakkan.

Si badut mengayuh kembali sepedanya ke perkemahan sirkus dengan sedih karena peringatannya tidak didengarkan.

Moral: Seringkali kita menganggap ‘pembawa berita’ lebih penting daripada isi dari berita yang dibawa itu sendiri. Artinya dalam mendengarkan saran, nasihat, atau kritikan, kita kerap menilai si ‘pembawa berita’, bukan isi dari berita tersebut.

Contoh: Seorang yang sombong apabila ditegur oleh temannya akan menyebabkan pertengkaran. Lain cerita apabia ia ditegur oleh gurunya atau orang yang dihormatinya, walaupun isi tegurannya kira2 sama.

Mengapa harus demikian? Bukankah 1kg emas yang dibawa orang kaya dan 1kg emas yang dibawa pengemis sama berharganya (sama-sama emas)? Tidak bisakah kita menerima saran, nasihat, atau kritikan yang bagus tanpa memandang siapa yang menyampaikannya pada kita? Seberapa sering kita melewatkan kesempatan akibat mengabaikan berita penting yang dibawa oleh orang yang ‘kurang penting’?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s