kecerdasan dan kesuksesan

Kita mungkin sering mendengar dalih kecerdasan dalam keseharian kita. Contohnya antara lain adalah: “saya kurang cerdas”, “tentu saja dia bisa, dia lebih cerdas daripada saya”, dsb. Atau bahkan kita sendiri adalah pengidap “penyakit’ ini.

Hal ini sebenarnya menunjukkan kesalahan kita dalam memahami kecerdasan. Ya, ada dua kesalahan dalam dalih kecerdasan ini, yaitu:
1. Kita merendahkan & meremehkan kekuatan otak kita sendiri, dan
2. Kita terlalu menganggap hebat kekuatan otak orang lain.

Karena kedua kesalahan ini, banyak yang sering meremehkan nilai diri sendiri. Orang-orang yang menderita penyakit ini terlalu khawatir, sehingga gagal untuk suatu tantangan tersebut karena merasa diperlukan otak yang cerdas untuk memenuhi penyelesaian tantangan tersebut. Akan tetapi datanglah orang yang tidak perduli mengenai kecerdasan, dan ia mendapatkan kesempatan tersebut.

Yang penting sebenarnya bukanlah berapa hebat kecerdasan kita, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang benar-benar kita miliki. Pikiran yang memandu kecerdasan kita jauh lebih penting daripada kuantitas kekuatan otak kita. Atau dikenal sebagai “Emotional Quotient” oleh David Goleman.

Pada suatu saat seorang ilmuan fisika terkemuka pada masanya, Dr. Edward Teller, ditanya “Haruskah anak Anda menjadi seorang ilmuan?Apa yang diperlukan anak untuk menjadi ilmuan?”. Beliau menjawab; “anak tidak memerlukan otak yang berpikir cepat untuk menjadi ilmuan, juga tidak memerlukan ingatan yang menakjubkan dan juga tidak perlu mendapatkan nilai yang sangat tinggi di sekolah. Satu-satunya yang penting bagi anak tersebut adalah mempunyai tingkat minat yang tinggi akan ilmu pengetahuan”.

Kita Sering mendengar bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Hal ini bernilai separuh kebenaran, karena pengetahuan adalah kekuatan yang masih dalam bentuk potensial. Pengetahuan baru menjadi kekuatan jika diterapkan dan jika diterapkan dengan konstruktif.

Ada cerita, bahwa suatu saat, Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (feet) dalam 1 Mil. Einstein menjawab; “saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta-fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit dalam buku acuan standar?”.

jangan pernah merendahkan kecerdasan kita sendiri dan mengagnggap terlalu tinggi kecerdasan orang lain. Berkonsentrasilah pada apa yang kita miliki. Temukan bakat unggul kita. Manajemenilah otak kita masing-masing daripada khawatir mengenai IQ kita


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s